Rabu, 07 Maret 2018

Adab Safar


Hasil gambar untuk perjalanan safar




Tanya jawab mengenai Adab Safar ( Bepergian ) 

Pertanyaan Hadits I :

1.  Sebutkan sunnah rasulullah untuk melepas orang yang akan safar ?
2.  Berdasarkan hadits yang diriwayatkan Abu Daud. Apa saja yang menjadi bekal untuk safar ?
3. Mengapa bekal safar yang pertama berdasarkan hadits Abu Daud adalah : ​Aku titipkan Allah pemelihara agama kalian​ ?
4. Berdasarkan hadits lainnya yaitu hadits yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi apa saja yang menjadi bekal safar?

​JAWAB​ :

1. Sunnah beliau  dalam pelepasan adalah ​mengucapkan kalimat perpisahan​. Kalimat perpisahan ini sekaligus bekal yang beliau bekalkan kepada musafirin.
2. Yang menjadi bekal safar adalah : ​pemeliharaan agama, pemeliharaan amanat yang diemban, dan akhir penutup amal  dengan husnul khotimah​.
3. Karena Agama adalah ​sesuatu yang paling berharga dalam hidup ini​. Oleh karenanya hal yang pertama kali Nabi SAW wanti-wantikan adalah  agama.
4.  Yang menjadi  bekal safar adalah ​ketaqwaan, pengampunan dosa, dan kemudahan urusan​.

الله اعلم بالصوا ب
~ To Fay ~



Pertanyaan Hadits II :

Terkait tentang safar ! Bagaimanakah ketika akhwat yang bekerja, lalu suatu ketika harus safar karena tugas, lalu bermalam tanpa muhrim (misal 5 malam atau seminggu, contoh ada pelatihan di luar kota), hanya dengan rekan kerja sesama akhwat ?

​JAWAB​ :

Aturan bagi wanita ketika safar adalah dengan di temani mahromnya.
Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ تُسَافِرِ الْمَرْأَةُ إِلاَّ مَعَ ذِي مَحْرَمٍ وَلاَ يَدْخُلُ عَلَيْهَا رَجُلٌ إِلاَّ وَمَعَهَا مَحْرَمٌ فَقَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي أُرِيدُ أَنْ أَخْرُجَ فِي جَيْشِ كَذَا   وَكَذَا وَامْرَأَتِي تُرِيدُ الْحَجَّ فَقَالَ اخْرُجْ مَعَهَا

“Janganlah wanita safar (bepergian jauh) kecuali bersama dengan mahromnya, dan janganlah seorang (laki-laki) menemuinya melainkan wanita itu disertai mahromnya_. Maka seseorang berkata: “Wahai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sesungguhnya aku ingin pergi mengikuti perang anu dan anu, sedangkan istriku ingin menunaikan ibadah haji.” Beliau bersabda: _“Keluarlah (pergilah berhaji) bersamanya (istrimu)”.  [HR. Imam Bukhari, Muslim dan Ahmad I/222 dan 246].

Yang dikatakan safar adalah safar jarak jauh yang membutuhkan banyak bekal dan melelahkan.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu berkata, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ يَحِلُّ لامْرَأَةٍ تُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ أَنْ تُسَافِرَ مَسِيرَةَ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ لَيْسَ مَعَهَا حُرْمَةٌ

“Tidak halal (boleh) bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir safar sejauh sehari semalam (perjalanan) dengan tanpa mahram (yang menyertainya)”. [HR. Imam Bukhari , Muslim].

Namun jika ada suatu keadaan yang memaksa wanita untuk pergi maka hal ini masuk dalam “bab darurat”.
Ibnu Nujaim dalam Al Asybah wan Nazhoir menyebutkan suatu kaedah fikih :

الضَرُوْرَاتُ تُبِيْحُ المحْظُوْرَاتُ
“Keadaan darurat membolehkan sesuatu yang terlarang”.

[Al-Asybah wa An-Nazhoir, hal. 107].

 Akan tetapi pastikan bahwa tempat yang didatangi itu tempat aman, Dikatakan :

“Adapun yang disebut oleh sebagian ulama dari teman-teman kami, itu dalam keadaan sendiri dan jumlah yang sedikit. Adapun dalam keadaan jumlah rombongan sangat banyak, sedang jalan yang dilewati adalah jalan umum yang ramai dan aman, maka bagi saya keadaan tersebut seperti keadaan dalam kota yang banyak pasar-pasarnya dan para pedagang yang berjualan, maka seperti ini dianggap aman bagi wanita yang bepergian tanpa mahram dan tanpa teman wanita”.  [Al-Muntaqa : 3/17].
                                                          الله اعلم بالصوا ب
~ To Fay ~



Pertanyaan Hadits III :

Terkait tentang safar Bila seseorang melakukan perjalan jauh sejauh 100 km atau yg  memenuhi syarat utk mengkhasyar sholatnya, manakah yg lebih baik mengkhasyar sholatnya atau sholat tiap waktu walaupun agak lambat mengingat sekarang ini byk terdapat mushala atau masjid di pinggir jalan.

​JAWAB​ :

Perlu diingat bahwa mengqoshor shalat tetap boleh dilakukan walaupun safar yang dilakukan penuh kemudahan. Keringanan qoshor shalat itu ada karena melakukan safar dan bukan karena alasan mendapat kesulitan. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut  :

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَضَعَ عَنِ الْمُسَافِرِ شَطْرَ الصَّلاَةِ

“Allah ‘azza wa jalla melepaskan dari musafir separuh shalat”. [HR. Abu Daud, At Tirmidzi, An Nasa-i, hadits hasan].

Sehingga walaupun safar yang ditempuh penuh kemudahan, tetap masih diperbolehkan untuk mengqoshor shalat, lagi pula mengambil rukhshoh/keringanan dalam beribadah itu dicintai Allah. Dari Ibnu Umar, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إن الله يحب أن تؤتى رخصه كما يحب أن تترك معصيته

"Sesungguhnya Allah senang untuk diambil keringanan-Nya, sebagaimana Dia senang di tinggalkan maksiat kepada-Nya". [HR.Ibnu Hibban dan Ibnu Huzaimah].

                                                          الله اعلم بالصوا ب
~ To Fay ~



Pertanyaan Hadits IV :

Apa saja fiqih dalam melakukan safar ?

​JAWAB​ :

Berikut fiqih Safar :

1.  Dianjurkan memilih hari Kamis, Hal ini berdasarkan hadis Ka’ab bin Malik berikut, ia berkata : 

  “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hampir tidak keluar dalam safar kecuali pada hari  Kamis”. [HR. Bukhari].


2.  Berdoa ketika berangkat ataupun  pulang.
Adapun doanya sebagai berikut :
Ibnu Umar berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila telah berada di atas untanya untuk keluar bersafar, Beliau bertakbir tiga kali dan mengucapkan:

« سُبْحَانَ الَّذِى سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُون

َ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِى سَفَرِنَا هَذَا الْبِرَّ وَالتَّقْوَى وَمِنَ الْعَمَلِ مَا تَرْضَى

َ اللَّهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا سَفَرَنَا هَذَا وَاطْوِ عَنَّا بُعْدَه

ُ اللَّهُمَّ أَنْتَ الصَّاحِبُ فِى السَّفَرِ وَالْخَلِيفَةُ فِى الأَهْلِ

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ وَعْثَاءِ السَّفَرِ وَكَآبَةِ الْمَنْظَرِ وَسُوءِ الْمُنْقَلَبِ فِى الْمَالِ وَالأَهْلِ »

“Mahasuci Allah yang menundukkan binatang ini bagi kami, dan sebelumnya kami tidak mampu menundukkannya, dan sesungguhnya hanya kepada Tuhan kamilah kembali”.

“Ya Allah, sesungguhnya kami meminta kepada-Mu dalam safar kami ini  kebaikan, ketakwaan dan amalan yang Engkau ridhai”.

“Ya Allah, ringankanlah bagi kami safar ini dan dekatkanlah yang jauh. Ya Allah, Engkaulah teman di perjalanan dan pengganti kami bagi keluarga”.

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari penderitaan safar, pandangan yang menyedihkan dan buruknya tempat kembali pada harta dan keluarga”.

“Dan apabila Beliau pulang, maka Beliau mengucapkan kata-kata yang sama, namun menambah (dengan kata-kata) :
آيِبُونَ تَائِبُونَ عَابِدُونَ لِرَبِّنَا حَامِدُونَ

“Dalam keadaan kembali, bertobat, beribadah dan memuji Tuhan Kami”.
[HR. Muslim].

3.    Ketika singgah di suatu tempat hendaknya  berdoa dengan doa berikut :
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ نَزَلَ مَنْزِلاً ثُمَّ قَال أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ لَمْ يَضُرُّهُ شَىْءٌ حَتَّى يَرْتَحِلَ مِنْ مَنْزِلِهِ ذَلِكَ

“Barangsiapa yang menempati suatu tempat, lalu mengucapkan, “A’uudzu, dan seterusnya”, (artinya : Aku berlindung dengan kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk-Nya), maka tidak ada sesuatu pun yang membahayakannya sampai ia pergi dari tempat itu”. [HR. Muslim].

4.    Bertakbir ketika menaiki tempat tinggi dan bertasbih ketika turun.  Jabir radhiyallahu ‘anhu berkata : “Kami ketika menaiki tempat tinggi bertakbir dan ketika turun bertasbih”. [HR. Bukhari].

5.    Berdoa ketika masuk ke sebuah kampung. Doanya adalah sebagai berikut :

اَللَّهُمَّ رَبَّ السَّموَاتِ السَّبْعِ وَمَا أَظْلَلْنَ ، وَرَبَّ الْأَرَضِيْنَ السَّبْعِ وَمَا أَقْلَلْنَ ،وَرَبَّ الشَّيَاطِيْنِ وَمَا أَضْلَلْنَ ، وَرَبَّ الرِّيَاحِ وَمَا ذَرَيْنَ. أَسْأَلُكَ خَيْرَ هَذِهِ اْلقَرْيَةِ وَخَيْرَ أَهْلِهَا ، وَخَيْرَ مَا فِيْهَا، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا، وَشَرِّ أَهْلِهَا ، وَشَرِّ مَا فِيْهَا
“Ya Allah, Tuhan langit yang tujuh dan apa yang dinaunginya, Tuhan bumi yang tujuh dan apa yang berada di atasnya, Tuhan setan – setan dan makhluk yang disesatkannya, Tuhan angin dan apa yang dibawanya. Aku meminta kepada-Mu kebaikan kampung ini dan kebaikan penghuninya serta kebaikan yang ada di dalamnya. Aku pun berlindung kepada-Mu dari keburukannya, keburukan penghuninya dan keburukan yang ada di dalamnya”.  [HR.Nasa’i  dan Hakim dan ia menshahihkannya].

6.    Wanita yang bersafar harus disertai mahram. Haram hukumnya bagi wanita bersafar sendiri. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut:

« لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلاَّ وَمَعَهَا ذُو مَحْرَمٍ وَلاَ تُسَافِرِ الْمَرْأَةُ إِلاَّ مَعَ ذِى مَحْرَمٍ »

“Janganlah sekali-kali seseorang berkhalwat (berduaan) dengan wanita kecuali ditemani mahram, dan janganlah seorang wanita bersafar kecuali bersama mahram”. [HR. Muslim]
Contoh mahram:
إِلاَّ وَمَعَهَا أَبُوهَا أَوِ ابْنُهَا أَوْ زَوْجُهَا أَوْ أَخُوهَا أَوْ ذُو مَحْرَمٍ مِنْهَا

“Kecuali bersamanya ada bapaknya atau anaknya atau suaminya atau saudaranya atau mahram lainnya”. [HR. Muslim].

7.    Disunatkan mengangkat ketua rombongan. Dalam Hadits Dijelaskan :

اِذَا خَرَجَ ثَلاَثَةٌ فِي سَفَرٍ فَلْيُؤَمِّرُوْا اَحَدَهُمْ (ابو داود وصححه الالباني)

“Apabila keluar tiga orang untuk bepergian, maka hendaknya mereka mengangkat salah seorang di antara mereka sebagai ketua”. [HR. Abu Dawud].

8.    Berpamitan dengan keluarga dan yang dipamiti  mendoakan . Adapun Do’anya sebagai berikut :

أَسْتَوْدِعُ اللهُ دِيْنَكَ وَاَمَانَتَكَ وَخَوَاتِيْمَ عَمَلِكَ

“Aku titipkan kamu kepada Allah baik agama, amanat maupun akhir-akhir amalmu”.[HR.Tirmidzi].

9.   Boleh mengusap bagian atas khuff (sepatu yang menutupi kedua mata kaki) ketika berwudhu’, tanpa perlu melepasnya.

10.    Boleh bertayammum bila tidak mendapatkan air atau susah mencarinya.

11.    Seorang musafir yang tidak mengetahui arah kiblat wajib berusaha mencarinya baik dengan bertanya atau lainnya. Jika telah berusaha mencarinya, lalu ia shalat dan setelah shalat ternyata tidak menghadap kiblat, maka shalatnya sah; tidak perlu diulangi. Namun, jika ia tidak berusaha mencarinya, dan ternyata shalatnya tidak menghadap kiblat, maka ia wajib mengulangi (lih. Al Mumti’ 2/281).

12.     Cukup membaca surat-surat pendek dalam sholat ketika safar.

“Bahwa Rasulullah _shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat Isya bersama para sahabat ketika safar dengan membaca Wat Tiini waz zaitun” . [HR.Muslim].

13.  Diberi keringanan meng-qashar (mengurangi) jumlah shalat yang empat rakaat menjadi dua.

14.  Bagi musafir yang telah singgah di tempat yang dituju harus tetap menjaga shalat berjama’ah. Kecuali ketika ia masih dalam perjalanan, maka tidak mesti berhenti untuk shalat berjamaah saat mendengar azan.

15. Boleh menjama’ (menggabung) Zhuhur dan ‘Ashar atau Maghrib dan Isya, baik jama’ taqdim maupun jama’ ta’khir.

16.  Boleh melakukan shalat sunat di atas kendaraannya ke mana saja kendaraannya menghadap, namun untuk shalat fardhu hendaklah dia turun dan menghadap ke kiblat*, kecuali jika tidak memungkinkan untuk turun dan waktu shalat akan habis.

17.     Boleh berbuka puasa.
الله اعلم بالصوا ب
~ To Fay ~



Pertanyaan Hadits V :

Di masyarakat sering kita jumpai saat akan safar (menjelang berangkat Haji) dilakukan syukuran / slematan mengundang tetangga, apa dibenarkan dalam tuntunan Islam ?

JAWAB :

Ada sebuah prinsip jika sebuah tradisi tidak bertentangan dengan syriat maka boleh saja dikerjakan, namun bila tradisi ini bertolak belakang dengan syariah maka tradisi itu harus ditinggalkan. Al Quran dan Sunnah di nomor satukan daripada adat dan tradisi. Tradisi ini memang sudah umum di masyarakat Indonesia. Tradisi ini dalam kitab fiqih dinamakan “An Naqiah”.
Tentang an Naqiah , Al-Nawawi   berpendapat:

يستحب النقيعة وهي طعام يعمل لقدوم المسافر ويطلق على ما يعمله المسافر القادم وعلى ما يعمله غيره له

“Disukai melangsungkan naqi’ah, yaitu makanan yang dihidangkan karena kedatangan musafir, baik disiapkan oleh musafir itu sendiri, atau orang lain untuk menyambut kedatangan musafir”.[Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab].

Menurut madzhab syafi'i hal ini dibolehkan :

الشافعية قالوا: يسن صنع الطعام والدعوة إليه عند كل حادث سرور، سواء كان للعرس أوللختان أوللقدوم من السفر إلى غير ذلك مما ذكر

“Madzhab Syafi’i mengatakan disunahkan menghidangkan makanan dan mengundang orang untuk memakannya pada setiap kejadian yang membahagiakan, baik saat pernikahan, nikah, kedatangan orang dari perjalanan, dan lain-lain”. [Al-Jaziri dalam Al-Fiqhu ‘ala Madzahibil Arba’ah].

Syaikh Utsaimin, Mufti Makkah Arab Saudi pernah mengatakan :

هذا لا بأس به ، لا بأس بإكرام الحجاج عند قدومهم ؛ لأن هذا يدل على الاحتفاء بهم ، ويشجعهم أيضاً على الحج ، لكن التبذير الذي أشرت إليه والإسراف هو الذي ينهى عنه ؛ لأن الإسراف منهي عنه ، سواء بهذه المناسبة ، أو غيرها ، قال الله تبارك وتعالى : ( وَلا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ ) الأنعام/141 ، وقال تعالى : ( إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ) الإسراء/27 ، لكن إذا كانت وليمة مناسبة ، على قدر الحاضرين ، أو تزيد قليلاً : فهذا لا بأس به من الناحية الشرعية ،

Tidak mengapa mengadakannya. Boleh melakukannya dalam rangka memuliakan para jama’ah haji ketika mereka datang, karena acara ini merupakan bentuk penyambutan bagi mereka. Selain itu dapat memacu orang untuk berhaji. Namun pemborosan, sebagaimana yang engkau ceritakan, inilah yang terlarang. Karena pemborosan itu dilarang agama, baik dalam acara seperti ini maupun dalam acara lain”.

 Allah Ta’ala berfirman:
وَلا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

“Jangan kalian berlebih-lebihan, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan”. [QS. Al An’am:141].
[Liqaa Baabil Maftuh, kaset 154 pertanyaan no.12 ].

Dasar hukum yang membolehkan an Naqiah adalah hadits berikut :

أَنَّهُ لَمَّا قَدِمَ المَدِينَةَ نَحَرَ جَزُورًا أَوْ بَقَرَةً

“Ketika Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam datang ke Madinah, beliau menyembelih unta atau sapi betina”. [HR. Bukhari no.2923 bab Ath Tha’am Indal Qudum]. Hadits ini juga menunjukkan bahwa mengundang orang untuk mendatangi An Naqi’ah itu disyariatkan. [Lihat Aunul Ma’bud, 10/211]. 


الله اعلم بالصوا ب
~ To Fay ~


Tidak ada komentar:

Posting Komentar