'
ADAB-ADAB BELAJAR HADITS

1.
Niat ikhlas karena Allah
(faktor dan tujuan hanya kepada Allah).
Niat akan
mempengaruhi proses dalam mempelajari ilmu. Niat ikhlas akan mendatangkan kemudahan dan
pahala dalam belajar.
2.
Jangan lupa setiap kali mulai belajar untuk membaca " بســـم الله الر حـمـن الر حيـــم " kemudian membaca doa sebelum belajar
:
للَّهُمَّ اِنْفَعْنِي بِمَا عَلَّمْتَنِي وَعَلِّمْنِي مَا
يَنْفَعُنِي وَارْزُقْنِي عِلْمًا يَنْفَعُنِي وَزِدْنِي عِلْمًا وَالْحَمْدُ
لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ وَأَعُوذُ بِاَللَّهِ مِنْ حَالِ أَهْلِ اَلنَّارِ
“Ya Allah,
manfaatkanlah untuk diriku apa yang telah Engkau ajarkan kepadaku dan ajarilah
aku dengan apa yang bermanfaat bagiku dan limpahkanlah rizqi berupa ilmu yang
bermanfaat bagiku. Tambahkanlah ilmu kepadaku. Segala puji bagi Allah dalam
keadaan apapun dan aku berlindung kepada Allah dari keadaan penghuni
neraka."
Atau dengan doa-doa
lain yang di hafal.
3.
Menggunakan istilah قال رسول
الله atau istilah sejenisnya sebelum membaca
hadits atau me nulisnya. Tujuanya untuk memastikan bahwa perkataan ini adalah
benar-benar sabda Nabi shollallhu ‘alaihi wassalam.
4.
Selanjutnya pembaca hadits atau penulisnya mencantumkan setatus drajat
hadits, semisal sohih, hasan atau dhoif. Bertujuan bahwa hadits ini benar adanya
dan dapat dipertanggungjawabkan serta dapat dijadikan landasan hukum.
5.
Sebaiknya dalam penulisan atau pembacaan hadits juga menyebutkan
perowinya minimal sahabat sang perowi hadits.
6.
Yang penting untuk diperhatikan juga adalah mencantumkan referensi.
Semisal dari kitab apa hadits ini dinikil, serta pada bab apa dia
termaktub, dan seterusnya.
7.
Sabar dan tekun dalam belajar . Mengerkjakan
tugas yang diberikan dengan konsisten.
8.
Menghormati guru pemateri. Bila ada sesuatu
yang tidak berkenan sampaikan dengan santun dan hormat.
9.
Teks hadits ditulis sesuai dengan kaidah
bahasa arab yang berlaku. Misalkan pada penulisan huruf ا
hendaknya (bila diperlukan) member tanda ء pada bagian atas atau
bawahnya hingga menajdi أ atau إ ,
bertujuan suapaya mempermudah pembaca.
10.
Teks hadits diberi harokat yang jelas,
suapaya tidak disalah fahami.
11.
Jika menulis lafadz jalalah “Allah”, maka tulis setelahnya [تعالى ] Ta’ala atau [عز و جل] Azza wa Jalla atau [سبحانه] atau yang lainnya dari kalimat pujian yang jelas tanpa menyingkatnya.
Tidak
seperti kebiasaan orang menyingkat Subhanahu wa Ta’ala dengan
“SWT” karena orang yang membacanyapun akan otomatis membaca “SWT” sehingga
pujian kepada Allah tidak disebut dengan sempurna.
12.
Tidak boleh menyingkat sholawat kepada Nabi dengan
“SAW” atau singkatan-singkatan lainya. Artinya sholawat ditulis dengan seutuhnya yaitu dengan صلى الله عليه وسلم atau shollallahu ‘alaihi
wassalam. Sebab dengan menyingkat penulisan sholawat membuat orang
luput dari mengucapkan sholawat kepada Nabi shollallahu ‘alaihi wassalam.
13. Tidak
diperbolehkan juga menyingkat doa kepada perowi hadits (sahabat khususnya).
Semisal doa “Radhiallahu ‘anhu”
disingkat
dengan “ ra ”.
14. Jika
menulis nama tabi’in dan orang-orang yang berhak mendapatkan doa maka juga tulis
setelahnya “rahimahulahu” secara
lengkap tidak di singkat.
15. Jika menyebut seorang ulama yang masih hidup maka
tulis setelah namanya “Hafidzahullah” [semoga Allah menjaganya].
16. Membedakan hadist dengan
kalimat atau kata yang lain yang bukan dari bagian hadits dengan tanda kurung (
), atau [ ], atau { } dsb, sehingga mencegah bercampurnya
antara hadits dengan kalimat yang lain. Atau menulisnya di baris tersendiri
yang memisahkan dengan kalimat yang lain.
17. Diperbolehkan
menyingkat beberapa kata yang telah disepakati oleh ulama hadist misalnya:
- Kata [ حدثنا ]
menjadi [ ثنا ] atau [ نا ]
- Kata [ أخبرنا ] menjadi [ أرنا ]
18.
Mengamalkan ilmu yang sudah di dipelajari.
19.
Dengan
sekemapuanya menularkan ilmu kepada orang lain.
To FAY ( Forty Hadits a Year ) 2016
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ
الصَّالِحَاتُ
Tidak ada komentar:
Posting Komentar