Tanya jawab mengenai Adab Safar ( Bepergian )
Pertanyaan
Hadits I :
1. Sebutkan sunnah rasulullah
untuk melepas orang yang akan safar ?
2. Berdasarkan hadits yang
diriwayatkan Abu Daud. Apa saja yang menjadi bekal untuk safar ?
3. Mengapa bekal safar yang
pertama berdasarkan hadits Abu Daud adalah : Aku titipkan Allah pemelihara
agama kalian ?
4. Berdasarkan hadits lainnya
yaitu hadits yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi apa saja yang menjadi bekal
safar?
JAWAB
:
1. Sunnah beliau dalam pelepasan adalah mengucapkan kalimat
perpisahan. Kalimat perpisahan ini sekaligus bekal yang beliau bekalkan kepada
musafirin.
2. Yang menjadi bekal safar
adalah : pemeliharaan agama, pemeliharaan amanat yang diemban, dan akhir penutup
amal dengan husnul khotimah.
3. Karena Agama adalah
sesuatu yang paling berharga dalam hidup ini. Oleh karenanya hal yang pertama
kali Nabi SAW wanti-wantikan adalah
agama.
4. Yang menjadi bekal safar
adalah ketaqwaan, pengampunan dosa, dan kemudahan urusan.
الله
اعلم بالصوا ب
~ To Fay ~
Pertanyaan Hadits II :
Terkait
tentang safar ! Bagaimanakah ketika akhwat yang bekerja, lalu suatu ketika
harus safar karena tugas, lalu bermalam tanpa muhrim (misal 5 malam atau
seminggu, contoh ada pelatihan di luar kota), hanya dengan rekan kerja sesama
akhwat ?
JAWAB
:
Aturan
bagi wanita ketika safar adalah dengan di temani mahromnya.
Dari
Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda:
لاَ تُسَافِرِ الْمَرْأَةُ
إِلاَّ مَعَ ذِي مَحْرَمٍ وَلاَ يَدْخُلُ عَلَيْهَا رَجُلٌ إِلاَّ وَمَعَهَا مَحْرَمٌ
فَقَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي أُرِيدُ أَنْ أَخْرُجَ فِي جَيْشِ كَذَا وَكَذَا وَامْرَأَتِي تُرِيدُ الْحَجَّ فَقَالَ اخْرُجْ مَعَهَا
“Janganlah
wanita safar (bepergian jauh) kecuali bersama dengan mahromnya, dan janganlah
seorang (laki-laki) menemuinya melainkan wanita itu disertai mahromnya_. Maka
seseorang berkata: “Wahai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sesungguhnya
aku ingin pergi mengikuti perang anu dan anu, sedangkan istriku ingin
menunaikan ibadah haji.” Beliau bersabda: _“Keluarlah (pergilah berhaji) bersamanya
(istrimu)”. [HR. Imam Bukhari,
Muslim dan Ahmad I/222 dan 246].
Yang
dikatakan safar adalah safar jarak jauh yang membutuhkan banyak bekal dan
melelahkan.
Dari
Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu berkata, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda:
لاَ يَحِلُّ لامْرَأَةٍ تُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ
الْآخِرِ أَنْ تُسَافِرَ مَسِيرَةَ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ لَيْسَ مَعَهَا حُرْمَةٌ
“Tidak
halal (boleh) bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir
safar sejauh sehari semalam (perjalanan) dengan tanpa mahram (yang
menyertainya)”. [HR. Imam Bukhari , Muslim].
Namun
jika ada suatu keadaan yang memaksa wanita untuk pergi maka hal ini masuk dalam
“bab darurat”.
Ibnu Nujaim dalam Al Asybah wan Nazhoir menyebutkan
suatu kaedah fikih :
الضَرُوْرَاتُ تُبِيْحُ المحْظُوْرَاتُ
“Keadaan darurat membolehkan sesuatu yang terlarang”.
[Al-Asybah wa
An-Nazhoir, hal. 107].
Akan tetapi pastikan
bahwa tempat yang didatangi itu tempat aman, Dikatakan :
“Adapun yang disebut oleh sebagian ulama dari
teman-teman kami, itu dalam keadaan sendiri dan jumlah yang sedikit. Adapun
dalam keadaan jumlah rombongan sangat banyak, sedang jalan yang dilewati adalah
jalan umum yang ramai dan aman, maka bagi saya keadaan tersebut seperti keadaan
dalam kota yang banyak pasar-pasarnya dan para pedagang yang berjualan, maka
seperti ini dianggap aman bagi wanita yang bepergian tanpa mahram dan tanpa
teman wanita”. [Al-Muntaqa : 3/17].
الله
اعلم بالصوا ب
~ To Fay ~
Pertanyaan Hadits III :
Terkait
tentang safar Bila seseorang melakukan perjalan jauh sejauh 100 km atau yg memenuhi syarat utk mengkhasyar sholatnya,
manakah yg lebih baik mengkhasyar sholatnya atau sholat tiap waktu walaupun
agak lambat mengingat sekarang ini byk terdapat mushala atau masjid di pinggir
jalan.
JAWAB
:
Perlu
diingat bahwa mengqoshor shalat tetap boleh dilakukan walaupun safar yang
dilakukan penuh kemudahan. Keringanan qoshor shalat itu ada karena melakukan
safar dan bukan karena alasan mendapat kesulitan. Sebagaimana sabda
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut :
إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَضَعَ عَنِ الْمُسَافِرِ
شَطْرَ الصَّلاَةِ
“Allah ‘azza wa jalla melepaskan dari musafir separuh
shalat”. [HR. Abu Daud, At Tirmidzi, An Nasa-i, hadits hasan].
Sehingga
walaupun safar yang ditempuh penuh kemudahan, tetap masih diperbolehkan untuk
mengqoshor shalat, lagi pula mengambil rukhshoh/keringanan dalam beribadah itu
dicintai Allah. Dari Ibnu Umar, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda:
إن الله يحب أن تؤتى رخصه كما يحب أن تترك معصيته
"Sesungguhnya Allah senang untuk diambil
keringanan-Nya, sebagaimana Dia senang di tinggalkan maksiat kepada-Nya". [HR.Ibnu
Hibban dan Ibnu Huzaimah].
الله
اعلم بالصوا ب
~ To Fay ~
Pertanyaan Hadits IV :
Apa saja fiqih dalam melakukan safar ?
JAWAB
:
Berikut fiqih Safar :
1. Dianjurkan memilih hari Kamis, Hal ini
berdasarkan hadis Ka’ab bin Malik berikut, ia berkata :
“Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam hampir tidak keluar dalam safar kecuali pada hari Kamis”. [HR. Bukhari].
2. Berdoa ketika berangkat
ataupun pulang.
Adapun doanya sebagai berikut :
Ibnu Umar berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam apabila telah berada di atas untanya untuk keluar bersafar, Beliau
bertakbir tiga kali dan mengucapkan:
«
سُبْحَانَ الَّذِى سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ وَإِنَّا إِلَى
رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُون
َ
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِى سَفَرِنَا هَذَا الْبِرَّ وَالتَّقْوَى وَمِنَ الْعَمَلِ
مَا تَرْضَى
َ
اللَّهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا سَفَرَنَا هَذَا وَاطْوِ عَنَّا بُعْدَه
ُ
اللَّهُمَّ أَنْتَ الصَّاحِبُ فِى السَّفَرِ وَالْخَلِيفَةُ فِى الأَهْلِ
اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ وَعْثَاءِ السَّفَرِ
وَكَآبَةِ الْمَنْظَرِ وَسُوءِ الْمُنْقَلَبِ فِى الْمَالِ وَالأَهْلِ »
“Mahasuci Allah yang menundukkan binatang ini bagi kami,
dan sebelumnya kami tidak mampu menundukkannya, dan sesungguhnya hanya kepada
Tuhan kamilah kembali”.
“Ya Allah, sesungguhnya kami meminta kepada-Mu dalam safar
kami ini kebaikan, ketakwaan dan amalan yang Engkau ridhai”.
“Ya Allah, ringankanlah bagi kami safar ini dan dekatkanlah
yang jauh. Ya Allah, Engkaulah teman di perjalanan dan pengganti kami bagi
keluarga”.
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari
penderitaan safar, pandangan yang menyedihkan dan buruknya tempat kembali pada
harta dan keluarga”.
“Dan apabila Beliau pulang, maka Beliau mengucapkan kata-kata
yang sama, namun menambah (dengan kata-kata) :
آيِبُونَ تَائِبُونَ عَابِدُونَ لِرَبِّنَا
حَامِدُونَ
“Dalam keadaan kembali, bertobat, beribadah dan memuji
Tuhan Kami”.
[HR. Muslim].
3.
Ketika singgah di suatu
tempat hendaknya berdoa dengan doa berikut :
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ نَزَلَ مَنْزِلاً ثُمَّ قَال أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ
شَرِّ مَا خَلَقَ لَمْ يَضُرُّهُ شَىْءٌ حَتَّى
يَرْتَحِلَ مِنْ مَنْزِلِهِ ذَلِكَ
“Barangsiapa yang menempati suatu tempat, lalu mengucapkan,
“A’uudzu, dan seterusnya”, (artinya :
Aku berlindung dengan kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk-Nya), maka
tidak ada sesuatu pun yang membahayakannya sampai ia pergi dari tempat itu”. [HR.
Muslim].
4.
Bertakbir ketika menaiki
tempat tinggi dan bertasbih ketika turun. Jabir radhiyallahu ‘anhu berkata : “Kami
ketika menaiki tempat tinggi bertakbir dan ketika turun bertasbih”. [HR.
Bukhari].
5.
Berdoa ketika masuk ke
sebuah kampung. Doanya adalah sebagai berikut :
اَللَّهُمَّ
رَبَّ السَّموَاتِ السَّبْعِ وَمَا أَظْلَلْنَ ، وَرَبَّ الْأَرَضِيْنَ السَّبْعِ وَمَا
أَقْلَلْنَ ،وَرَبَّ الشَّيَاطِيْنِ وَمَا أَضْلَلْنَ ، وَرَبَّ الرِّيَاحِ وَمَا ذَرَيْنَ.
أَسْأَلُكَ خَيْرَ هَذِهِ اْلقَرْيَةِ وَخَيْرَ أَهْلِهَا ، وَخَيْرَ مَا فِيْهَا،
وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا، وَشَرِّ أَهْلِهَا ، وَشَرِّ مَا فِيْهَا
“Ya Allah, Tuhan langit yang tujuh dan apa yang
dinaunginya, Tuhan bumi yang tujuh dan apa yang berada di atasnya, Tuhan setan –
setan dan makhluk yang disesatkannya, Tuhan angin dan apa yang dibawanya. Aku
meminta kepada-Mu kebaikan kampung ini dan kebaikan penghuninya serta kebaikan
yang ada di dalamnya. Aku pun berlindung kepada-Mu dari keburukannya, keburukan
penghuninya dan keburukan yang ada di dalamnya”. [HR.Nasa’i
dan Hakim dan ia menshahihkannya].
6.
Wanita yang bersafar harus
disertai mahram. Haram hukumnya bagi wanita bersafar sendiri. Hal ini berdasarkan
sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut:
« لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلاَّ وَمَعَهَا
ذُو مَحْرَمٍ وَلاَ تُسَافِرِ الْمَرْأَةُ إِلاَّ مَعَ ذِى مَحْرَمٍ »
“Janganlah sekali-kali seseorang berkhalwat (berduaan) dengan
wanita kecuali ditemani mahram, dan janganlah seorang wanita bersafar kecuali
bersama mahram”. [HR. Muslim]
Contoh
mahram:
إِلاَّ وَمَعَهَا أَبُوهَا أَوِ ابْنُهَا أَوْ زَوْجُهَا
أَوْ أَخُوهَا أَوْ ذُو مَحْرَمٍ مِنْهَا
“Kecuali bersamanya ada bapaknya atau anaknya atau suaminya
atau saudaranya atau mahram lainnya”. [HR. Muslim].
7.
Disunatkan mengangkat ketua
rombongan. Dalam Hadits Dijelaskan :
اِذَا خَرَجَ ثَلاَثَةٌ فِي سَفَرٍ
فَلْيُؤَمِّرُوْا اَحَدَهُمْ (ابو داود وصححه الالباني)
“Apabila keluar tiga orang untuk bepergian, maka hendaknya
mereka mengangkat salah seorang di antara mereka sebagai ketua”. [HR.
Abu Dawud].
8.
Berpamitan dengan keluarga
dan yang dipamiti mendoakan . Adapun Do’anya
sebagai berikut :
أَسْتَوْدِعُ اللهُ دِيْنَكَ وَاَمَانَتَكَ وَخَوَاتِيْمَ
عَمَلِكَ
“Aku titipkan kamu kepada
Allah baik agama, amanat maupun akhir-akhir amalmu”.[HR.Tirmidzi].
9. Boleh mengusap bagian atas
khuff (sepatu yang menutupi kedua mata kaki) ketika berwudhu’, tanpa perlu
melepasnya.
10. Boleh bertayammum bila
tidak mendapatkan air atau susah mencarinya.
11. Seorang musafir yang tidak
mengetahui arah kiblat wajib berusaha mencarinya baik dengan bertanya atau
lainnya. Jika telah berusaha mencarinya, lalu ia shalat dan setelah shalat
ternyata tidak menghadap kiblat, maka shalatnya sah; tidak perlu diulangi.
Namun, jika ia tidak berusaha mencarinya, dan ternyata shalatnya tidak
menghadap kiblat, maka ia wajib mengulangi (lih. Al Mumti’ 2/281).
12.
Cukup membaca surat-surat
pendek dalam sholat ketika safar.
“Bahwa Rasulullah _shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah
shalat Isya bersama para sahabat ketika safar dengan membaca Wat Tiini waz
zaitun” . [HR.Muslim].
13. Diberi keringanan
meng-qashar (mengurangi) jumlah shalat yang empat rakaat menjadi dua.
14. Bagi musafir yang telah
singgah di tempat yang dituju harus tetap menjaga shalat berjama’ah. Kecuali ketika ia masih dalam perjalanan, maka tidak mesti berhenti untuk shalat
berjamaah saat mendengar azan.
15. Boleh menjama’
(menggabung) Zhuhur dan ‘Ashar atau Maghrib dan Isya, baik jama’ taqdim maupun
jama’ ta’khir.
16. Boleh melakukan shalat
sunat di atas kendaraannya ke mana saja kendaraannya menghadap, namun untuk
shalat fardhu hendaklah dia turun dan menghadap ke kiblat*, kecuali jika tidak
memungkinkan untuk turun dan waktu shalat akan habis.
17.
Boleh berbuka puasa.
الله اعلم بالصوا ب
~ To Fay ~
Pertanyaan Hadits V :
Di
masyarakat sering kita jumpai saat akan safar (menjelang berangkat Haji) dilakukan
syukuran / slematan mengundang tetangga, apa dibenarkan dalam tuntunan Islam ?
JAWAB :
Ada
sebuah prinsip jika sebuah tradisi tidak bertentangan dengan syriat maka boleh
saja dikerjakan, namun bila tradisi ini bertolak belakang dengan syariah maka
tradisi itu harus ditinggalkan. Al Quran dan Sunnah di nomor satukan daripada
adat dan tradisi. Tradisi ini memang sudah umum di masyarakat Indonesia.
Tradisi ini dalam kitab fiqih dinamakan “An Naqiah”.
Tentang an Naqiah , Al-Nawawi berpendapat:
يستحب النقيعة
وهي طعام يعمل لقدوم المسافر ويطلق على ما يعمله المسافر القادم وعلى ما يعمله
غيره له
“Disukai
melangsungkan naqi’ah, yaitu makanan yang dihidangkan karena kedatangan
musafir, baik disiapkan oleh musafir itu sendiri, atau orang lain untuk menyambut
kedatangan musafir”.[Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab].
Menurut madzhab
syafi'i hal ini dibolehkan :
الشافعية قالوا: يسن
صنع الطعام والدعوة إليه عند كل حادث سرور، سواء كان للعرس أوللختان أوللقدوم من
السفر إلى غير ذلك مما ذكر
“Madzhab
Syafi’i mengatakan disunahkan menghidangkan makanan dan mengundang orang untuk
memakannya pada setiap kejadian yang membahagiakan, baik saat pernikahan,
nikah, kedatangan orang dari perjalanan, dan lain-lain”. [Al-Jaziri
dalam Al-Fiqhu ‘ala Madzahibil Arba’ah].
Syaikh Utsaimin, Mufti Makkah Arab Saudi pernah
mengatakan :
هذا لا بأس به ، لا
بأس بإكرام الحجاج عند قدومهم ؛ لأن هذا يدل على الاحتفاء بهم ، ويشجعهم أيضاً على
الحج ، لكن التبذير الذي أشرت إليه والإسراف هو الذي ينهى عنه ؛ لأن الإسراف منهي
عنه ، سواء بهذه المناسبة ، أو غيرها ، قال الله تبارك وتعالى : ( وَلا تُسْرِفُوا
إِنَّهُ لا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ ) الأنعام/141 ، وقال تعالى : ( إِنَّ
الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ) الإسراء/27 ، لكن إذا كانت
وليمة مناسبة ، على قدر الحاضرين ، أو تزيد قليلاً : فهذا لا بأس به من الناحية
الشرعية ،
“Tidak
mengapa mengadakannya. Boleh melakukannya dalam rangka memuliakan para jama’ah
haji ketika mereka datang, karena acara ini merupakan bentuk penyambutan bagi
mereka. Selain itu dapat memacu orang untuk berhaji. Namun pemborosan,
sebagaimana yang engkau ceritakan, inilah yang terlarang. Karena pemborosan itu
dilarang agama, baik dalam acara seperti ini maupun dalam acara lain”.
Allah Ta’ala berfirman:
وَلا
تُسْرِفُوا إِنَّهُ لا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ
“Jangan kalian berlebih-lebihan,
sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan”. [QS. Al
An’am:141].
[Liqaa Baabil
Maftuh, kaset 154 pertanyaan no.12 ].
Dasar hukum yang membolehkan an Naqiah adalah hadits
berikut :
أَنَّهُ لَمَّا قَدِمَ المَدِينَةَ نَحَرَ جَزُورًا
أَوْ بَقَرَةً
“Ketika
Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam datang ke Madinah, beliau menyembelih unta
atau sapi betina”. [HR. Bukhari no.2923 bab Ath Tha’am Indal Qudum].
Hadits ini juga menunjukkan bahwa mengundang orang untuk mendatangi An
Naqi’ah itu disyariatkan. [Lihat Aunul Ma’bud, 10/211].
الله اعلم بالصوا ب
~ To Fay ~